Hai BloGgY...
Apa kabarnyaaa? Wah dari kemaren
pengen banget ngobrol sama kamu, banyak yang mau dicurhatin, tapi kesibukan
demi kesibukan yang tidak dapat ditunda membuat gue baru sempet sekarang buka
laptop dan ketemu sama kamu. Inipun sambil harap2, mudah2an gue bisa
menuntaskan curhatan gue dalam satu waktu.
Memang kesibukan demi kesibukan
yang tidak dapat ditunda seperti apa sih? Itu lho sayang... kesibukan mengurus
malaikat kecil yang bernama Raisya Nabila Mecca. Yes, gue sudah melahirkan
seorang baby girl lucu, BloGgY... pada tanggal 28 Februari 2015 kemarin. And
yes, since that day, hari2 gue berubah drastis. Tangisan Raisya membuat gue
bisa pontang panting meninggalkan segala hal lain yang ingin dan sedang gue
lakukan, untuk segera nenenin Raisya, atau menggantikan popok Raisya yang
terkena pipis dan pup, atau hanya mengelus-elus kepalanya.
Dan sekarang gue mau cerita,
tentang fase baru kehidupan gue bersama Raisya...
Jumat, 27 Februari 2015
Dr. Asdi meminta gue sudah check
in rumah sakit sejak malam ini, maksimum jam 7 malam. Karena esok paginya jam 7
pagi gue sudah harus menjalani operasi caesar. Perasaan deg2an sudah gue alami
sejak beberapa hari sebelumnya dan hari itu perasaan deg2an gue semakin
kencang.
Gue meminta kepada my hubby untuk
nemenin gue hari itu reflexy dan nyalon dulu. Bahkan gue juga minta ditemenin
nonton Kingsman dulu di Mall Ciputra. Tetapi ternyata niat nonton Kingsman gak
kesampaian karena waktunya gak cukup.
Jadi siang, saat my hubby sholat
Jumat, gue dan Davina reflexy berdua di Golden. Selain menghilangkan pegal2,
gue juga ingin puas2in menghabiskan quality time bersama my beloved Davina. Gue
tau, saat adeknya nanti lahir, perhatian gue kepada Davina pasti akan sangat
terbagi.
Tetapi Davina tidak ikut nyalon
karena sore itu Davina mau les mengaji dan sepupu2nya (Shawa, Irbi, Banyu) mau
datang ke rumah. Yup, Mbak Andrin dan Dimaz mau menginap dari Jumat sd Minggu
di rumah supaya dekat kalau mau nengokin gue di rumah sakit sekalian antar
jemput my mom dan Davina saat my mom
juga mau jenguk gue di rumah sakit.
Akhirnya gue nyalon ditemenin sama my hubby.
Gue potong rambut dan creambath pakai strawberry dan ginseng. Pikir gue, selama
di rumah sakit sehabis caesar, pasti gue gak dibolehin mandi dan keramas. Uh,
rambut gue bisa lengket dan bau. Kalau di creambath pakai strawberry setidaknya
masih ada wangi2 strawberry lah nempel pas dicium sama tamu2 yang jenguk ke
rumah sakit, hehe. Anyway, pas lagi di salon, Mbak Andrin datang nyusul ke
salon untuk kasih handycam ke hubby, karena hubby mau ambil video saat proses
caesar berlangsung.
Selesai nyalon jam 6.45. Langsung
buru2 ke rumah sakit karena ingat harus sampai rumah sakit paling lambat jam 7
malam. Ternyata baru sampai rumah sakit jam 7.30. Setelah urus pendaftaran,
akhirnya gue dibawa ke ruangan untuk periksa CTG. Jadi ingat dulu saat mau
melahirkan Davina, gue disuruh CTG berkali2 (sampai gue lupa totalnya berapa
kali) karena tensi gue yang semakin naik sedangkan bukaan masih 3 aja. Tapi
hari itu gue Cuma disuruh CTG sekali selama 15 menit, ditest darah dan urine.
Pada saat CTG gue disuruh tidur terlentang dan itu menyiksa sekali. Selama
hamil gue sudah memasuki trisemester kedua, gue sudah tidak pernah lagi tidur
terlentang karena perut sudah begah banget. Sedangkan saat CTG disuruh tidur
terlentang selama 15 menit dan tidak boleh banyak gerak... wew gak nyaman
banget!
Sambil menunggu hasil CTG, urine
dan darah... gue duduk di depan ruang perina. Membayangkan besok my baby juga
sudah ada di ruangan itu. Pada saat lagi nunggu, ngobrol sama cewek... ternyata
dia agent Pru dari Pru Dynamic. Hahaha, sepertinya tadinya dia mau prospek gue.
Keren cara approaching nya. Pas sama2 tahu kalau kita sama2 agent Pru, kita
ketawa dan jadi ngobrol lebih banyak lagi. Gue dan hubby juga ketemu sama Bu
Risma, nasabah kita yang tinggal di Citra Gran. Rupanya Bu Risma lagi mengantar
anaknya ke dokter.
Ternyata hasil CTG dan HB bagus.
Gue diperbolehkan masuk ke kamar rawat inap. Gue pilih kamar kelas 1 yang
sekamar berdua biar gak sepi2 banget kalau my hubby lagi nggak nemenin gue di
kamar. Dan lagipula kamar kelas 1 aja sudah cukup mahal lho say. Basic price
sudah Rp 23 juta sekian, kalau plus2 bisa jadi Rp 28 juta. Kalau VIP basic
pricenya Rp 32 juta, dengan plus2 menjadi Rp 40 juta. Masalahnya, gue dan hubby
kan bukan karyawan kantoran, tapi profesional. Jadi biaya melahirkan tersebut
tidak diganti oleh kantor alias keluar dari kantong sendiri. Gak apa deh
menghemat Rp 12 juta untuk kepentingan baby yang lain, seperti untuk asuransi
pendidikannya. Toh di rumah sakit paling Cuma 4 hari saja.
Sampai kamar gue langsung
bersih2. Lalu dikasih makan malam pakai bubur ayam. Gue diharuskan mulai puasa
sejak jam 1 pagi. Tetapi karena sudah mengantuk, jam 10.30 gue juga sudah
tidur. Gue sempat berpikir, malam itu gue gak bisa tidur nyenyak karena
membayangkan operasi caesar. Ternyata alhamdulillah gue bisa tidur cukup
nyenyak. Begitupun my hubby.
Sabtu, 28 Februari 2015
Jam 5 subuh gue sudah bangun
untuk sholat, mandi, dan... dandan. Hahaha, wajib donk dandan, supaya nanti
kalau ada tamu datang sementara gue masih dalam pengaruh obat bius hingga gak
bisa dandan, gue sudah terlihat cantik. Hahaha. Gemini oh gemini. Tapi gue
tidak pakai lipstick dan sudah tentu tidak memakai softlense.
Jam 6 subuh gue dipanggil untuk
mengikuti suster menuju ruang persiapan operasi. Perasaan deg2an muncul lagi.
Kalau dulu saat melahirkan Davina gue melakukan operasi caesar dalam keadaan
lemas dan pasrah setelah mengalami konstraksi selama 12 jam lebih, kali ini gue
melakukan operasi caesar dalam keadaan sadar dan tidak lemas.
Di ruang persiapan operasi, gue
dipasang infus dan dites alergi. Biasanya gue takut banget kena jarum infus,
saat itu gue kuat2in aja. Kalau pasang jarum infus aja gue dah takut, gimana
ngadepin perut gue dibeleh. Cuma saat mau disuntik test alergi gue sempet ngeri
juga mengingat cerita Kak Ade yang mengatakan bahwa suntik test alergi adalah
bagian yang paling sakit dari proses operasi caesar. Gue inget2, dulu saat mau
melahirkan Davina, memang sih dalam keadaan lemas pun gue masih merasakan agak
perih saat disuntik test alergi. Karena suntik test alergi itu kan dilakukan di
bawah permukaan kulit. Tetapi nyatanya saat jarum suntik sudah bener2 masuk ke
dalam kulit gue, ahhh... sakit sih tapi sakit biasa banget kayak digigit semut.
Jauh banget dari yang gue bayangkan. Mungkin karena gue sudah sangat
mempersiapkan rasa sakit yang banget ya...
Setelah diinfus dan dimasukkan
antibiotik, gue sempet menunggu lama sambil tiduran. Dr. Asdi belum datang. My
hubby juga belum boleh masuk. Dalam kesendirian gue merasa jadi cemas lagi
memikirkan operasi caesar. Lagi cemas2 gitu, gue denger ada cewek lain juga
lagi menjalani persiapan mau operasi caesar. Namanya Ibu Jasmine. Dan lagi
mendengar percakapan di luar, tiba2 datang seorang dokter memperkenalkan diri
sebagai dokter anestesi. And well, gue lupa aja gitu sama namanya, hahaha. Yang
gue ingat, gue sibuk menanyakan kasus ada orang meninggal sehabis operasi
caesar di Rs. Siloam karena salah memasukkan obat bius. Gue memastikan ke
dokter tersebut bahwa hal itu tidak akan terjadi sama gue. Hehehe, parno!
Tahu2 Dr. Asdi datang. Menyapa
dan tertawa dengan santai. Booo, dia santai, sedangkan melihat dia gue makin
deg2an. Lalu gue denger suara my hubby datang mendekat. Tetapi seorang suster
menyuruh my hubby melepas seluruh bajunya dan memakai baju operasi dulu. Tempat
tidur gue lalu didorong memasuki ruang operasi. Ternyata ruang operasinya
sedikit berbeda dengan ruang operasi saat melahirkan Davina dulu. Dan tidak
sedingin yang dulu juga.
Di dalam ruang operasi, sudah ada
suster2 dan dokter anestesi. Lalu gue disuruh membungkuk di atas tempat tidur
dan dokter anestesi menyuntikkan obat bius dari tulang punggung gue. Tidak
sakit. Dan gue deg2an lagi obat bius gue tidak bekerja. Gue takutnya gue belum
merasakan terbius tetapi operasi sudah dilakukan. Tetapi dokter anestesi
menyuruh gue untuk mengangkat kaki kanan dan *doeeeng* gue merasa kaki gue
susah sekali terangkat dan pegaaalll. Gue sempet ngeluh pegel banget ke dokter anestesinya
dan sang dokter menyuruh gue untuk tidak usah merasakan.
Lalu kebawelan gue belum usai.
Gue minta izin boleh gak dengerin earphone, supaya gue gak usah denger suara
gunting dll. Dokter anestesi bilang, “Tenang aja... nanti kita pasangin musik kok
yang keras.” Dan dia kerasin suara musik dr speaker tapi bagi gue suaranya
masih belum cukup keras. Gue masih bisa denger percakapan. Tapi mau minta
dikerasin lagi takut dibilang cerewet wkwkwk.
Gak lama dr. Asdineri dan dr.
Fredico datang dengan santainya. Lalu mereka mulai deh membedah perut gue. Gue
sudah sibuk mencari2 mana my hubby. Dan my hubby pun datang dan merekam seluruh
bagian besar proses operasi caesar gue. Oiya sebelumnya di depan muka gue
dipasang penutup supaya gue gak bisa melihat perut gue yang diobrak abrik.
Dan alhamdulillah... gue tidak
merasakan sedikitpun rasa sakit selama operasi. Hanya gue merasa perut gue
digoyang2. Tapi gue yakin perut gue mengalami perlakuan lebih brutal daripada
itu. Dokter mengobrol dengan santai sambil ketawa2. Ngobrolin celana jeans,
ngobrolin rendang. Seakan2 mereka lagi menyantap makanan dari perut gue hahaha.
Dan dr. Asdineri sempet mempersilahkan my hubby duduk, takut tiba2 my hubby
pingsan kaliya liat air ketuban dan darah. Tapi my hubby tetap berdiri tegak
dan merekam dengan video proses air ketuban muncrat. Hebat memang my hubby!
Dan guepun mendengar suara baby
menangis. Baby gue sudah lahir ke dunia! Alhamdulillah. Jenis kelaminnya
benar... wanita. Letaknya ternyata sungsang. Dan pas diangkat dari rahim gue,
my baby langsung nangis kenceng dan pipis, hehehe. Welcome to the world my baby
girl...
Ternyata my baby mungil...
beratnya hanya 2,44 kg dengan panjang 45 cm. Padahal dari USG terakhir beratnya
sudah 2,87 kg. Tapi yang namanya USG kan memang gak akurat. Gue gak mengerti
kenapa baby2 yang gue lahirkan pada mungil2. Kalau dulu Davina lahir dengan
berat 2 kg karena gue pre eclampsia, kalau baby gue yang kedua kenapa ya
beratnya juga under 2.5 kg? Mungkin karena gizi makanan gue selama hamil tidak
mencukupi. Tetapi ada lho yang mual dan males makan selama 9 bulan babynya
lahir dengan berat 4,1 kg! Mungkin juga turunan dari keluarga my hubby. Well,
my hubby yang endut itu dulu lahirnya hanya 2,7 kg. Keponakannya yang namanya
Varo, yang embul itu, lahirnya Cuma 2,5 kg. Ponakannya yang namanya Vier
lahirnya 2,7 kg. Gue dulu lahir juga gak gede2 amat... Cuma 2,9 kg. Pada
gedenya di luar. Gpp deh... yang penting sehat ya nak...
My baby girl diberi nama Raisya
Nabila Mecca. Bagus ya namanya? Semuanya dari
bahasa Arab. Raisya artinya “pemimpin yang kaya”. Nabila artinya
“Cantik, pintar, mulia”. Mecca artinya “tanah suci”. Diharapkan my baby girl
kelak menjadi pemimpin yang kaya, cantik, pintar, dan mulia... terbuat dari
tanah yang suci. Aamiin.
Raisya setelah dibersihkan
sebentar, kemudian ditaruh di dada gue untuk IMD. Subhanallah, dari nangis
kenceng, begitu ditaruh di dada gue dia langsung diam. Rupanya dia hafal detak
jantung mamanya yang sudah didengarnya selama 9 bulan dalam rahim gue. Gue
liatin mukanya. Mungil, cantik, dan putiiih. Rasanya pengen cepet2 peluk dan
cium Raisya.
Lalu Raisya dibawa pergi lagi
oleh suster untuk dihangatkan. Dr. Fredrico melanjutkan proses menjahit dan dr.
Asdineri melakukan operasi pasien lain di ruang sebelah. Yah kira2 45 menit
selesai. Abis itu gue dibawa ke ruang pemulihan untuk istirahat.
Dulu sehabis melahirkan Davina
gue langsung tertidur pulas di ruang pemulihan. Dan rasanya dingiiin sekali.
Tetapi kali itu gue sama sekali gak bisa tidur. Entah kenapa. Apalagi di deket
ruang pemulihan itu, ada cleaning service bolak balik lagi membersihkan toilet.
Nasib seorang auditory, makin2 denger begituan gue jadi terjaga terus. Padahal
gue ngantuk, tapi gue gak bisa tidur. Ada perasaan bawah sadar juga mengatakan,
“Jangan tidur. Nanti bangun2 sakit lho kalau efek obat biusnya hilang.” Ah,
parno banget deh gue! Mana kali itu yang gue rasakan bukan dingiiin, tapi
keringetan booo. Panas banget sampe rambut gue lepek. Hilang tanpa sisa deh
wangi creambath strawberry gue.
Tau2 gue sudah waktunya dibawa ke
kamar rawat inap biasa. Syukur deh, mudah2an di kamar rawat inap gue bisa
istirahat lebih tenang. Tapi ternyata gak tuh. Sebelah gue yang sudah lahiran dari
semalem, mulai kedatangan tamu dan itu cukup berisik menurut gue *sigh,
auditory banget!*
Siang, Kak Dessy sempet datang. Dan
siang menjelang sore, temen2 dari team gue dateng. Ada Rora, Ryin, Merlin, Dema, Riki, Ryan. Dan karena gue
pusing banget akibat gak bisa tidur, gue hanya bisa nemenin mereka ngobrol
sambil memejamkan mata. My hubby yg lebih banyak nemenin mereka ngobrol.
Lagipula gue kan gak lagi pakai softlense. Dengan mata minus 3, kalau melek
tanpa alat bantu melihat, bikin kepala jadi makin pusing. Ya sudah akhirnya gue
Cuma merem dan geletakan aja. Karena memang kata dokter dan suster, seharian
itu gue gak boleh angkat kepala sama sekali, takut pusing lalu muntah. Sempet
sih gue memang mual banget saking pusingnya, untung gak sampai muntah. Dan saat
ditensi, tekanan darah gue 150/80 BloG! Huhu, serem banget efek kurang tidur.
Malamnya, Davina, Mas Roy, Mbak
Andrin, Shawa Irbi Banyu... dan my mom datang. Sebenarnya my mom, Mas Roy dan
Mbak Andrin jam 7 pagi sudah datang tetapi gue keburu masuk ruang persiapan
operasi. Lalu jam 11an mereka pulang. Gue pikir mereka akan datang lagi sore.
Dan gue kecewa juga sih... kenapa pada datangnya malem banget?
Tapi tingkah laku Davina
menghibur gue. Dia datang dengan rambut
dikepang 2 dan senyum malu2. Haha dia rupanya salah tingkah mau ketemu sama
adeknya. Tapi sayangnya, Adek Raisya saat itu belum bisa dibawa ke kamar gue
karena kata suster dia sempet muntah lendir jadi harus dihangatkan dulu. Kata
suster sih muntah lendir itu biasa.
Lebih malam lagi, ada De Iya,
Aat, Acha, dan Vier datang. Lalu De Iya, Aat dan Vier sekalian ke dokter anak
untuk lakukan uap buat Vier yang lagi batuk. Acha main di kamar sama Davina.
Rasanya gak pengen deh Davina pulang ke rumah malam itu. Entah kenapa gue
kangeeen banget sama dia. Tetapi akhirnya Davina dan rombongan harus pulang
karena sudah semakin larut.
Saat mereka sudah pulang, eeeh
Adek Raisya dibawa ke kamar untuk sebentar dilihatin ke gue. Yang sempet lihat
Adek Raisya adalah De Iya, Acha dan Vier. Lalu setelah gue nenenin sebentar
dengan posisi tiduran, Adek Raisya dibawa lagi ke ruang perina untuk istirahat.
Cu tomorrow Adek Raisya.
Syukur alhamdulillah, akhirnya
malam itu gue bisa tidur juga. Walaupun dengan perut nyeri karena sudah harus
miring ke kanan dan ke kiri.
Minggu, 1 Maret 2015
Hari itu gue sudah harus belajar
bangun dan turun dari tempat tidur. Aduh, gue sempet parno kesakitan dan memang
realnya sakit bener! Paginya gue masih disekain dan dipasangin kateter. Tapi
sorenya kateter dilepas dan gue sudah boleh mandi dmerii kamar mandi. Tapi
karena masih takut lukanya perih kena air dan sabun, akhirnya gue ke kamar
mandi Cuma buat pipis dan pup saja. Syukurlah pupnya gak keras. Dulu waktu
habis melahirkan Davina, gue baru bisa pup seminggu dari melahirkan. Tapi
perjalanan dari tempat tidur ke kamar mandi walaupun pendek jaraknya sudah
cukup membuat kepayahan. Sampai terbungkuk2, meringis2.
Tetapi bukan perih bekas jahitan
yang paling bikin menderita. Karena sekarang jahitannya bukan pakai benang lho
tetapi pakai lem. Yang paling bikin menderita adalah saat konstraksi proses
rahim menciut menjadi kecil. Mbak Andrin sudah bilang jangan sampai telat
memasukkan pain killernya yang dari anus. Dan sebelumnya memang tidak pernah
telat. Hingga akhirnya malam itu, saat Harry lagi keluar beli makan malam, gue
merasakan konstraksi yang teramat sakit. Bergerak buat mencet bel susterpun gak
bisa. Telfon my hubby gak diangkat2. Akhirnya Cuma bs bbm. Dan hp pun kemudian
lowbatt sehabis bbm. Pas my hubby akhirnya datang gue Cuma bisa nangis, nangis
nahan kesal dan nangis nahan sakit. Tapi nangisnya ditahan sedemikian rupa
supaya gak kedengeran sama keluarga pasien di sebelah. Padahal dah pengen
tereak2. Akhirnya setelah dimasukkan pain killer dari anus, gue pun tertidur.
Pagi itu my hubby sempet pulang
ke rumah untuk tanam ari2nya Adek Raisya. Mbak Andrin gantian jagain di rumah
sakit. Sempet curhat panjang lebar. Lalu datanglah Damas dan Ci Lyna. Siangnya
datang juga Tante Ayie dan Oom Rudy. Dan juga ada Acut. Sorenya datang Mami dan
Abuchi. Makasih Mami... untuk hadiah anting emas nya buat Adek Raisya...
Yang bikin senang, hari itu dari
jam 9 pagi sampai dengan 9 malam, adek Raisya sudah room in di kamar.
Palingan
dibawa lagi sama suster saat mandi dan popoknya basah krn pup or pipis. Pasien
sebelah sudah pulang dari pagi. Dia cepet pulang karena proses melahirkannya
normal. Tapi malamnya sudah ada pasien baru yang mau melahirkan caesar Senin
jam 6 pagi.
Syukurlah ada Tante Ayie datang
hari itu, ikut bantuin gue belajar menyusui Adek Raisya. Haha sudah lupa
bagaimana caranya menyusui secara Davina lahir 7 tahun yang lalu. Ternyata gak
mudah ya. Gue menyusui pakai pd yang kiri terus, karena masih sakit untuk
miring ke kanan dan masih kaku untuk posisiin yang kanan. Lagipula saat pd
dipencet, yang keluar baru yang kiri sedangkan yang kanan masih kosong. Gue
sejak pagi sudah minum Mama Soya dan berharap2 cemas mudah2an ASI gue sebanyak
saat Davina dulu.
Subhanallah, karena Adek Raisya
terus2an ngenyot kuat, lama2 pd kanan gue rembes keluar asi. Seneng banget!
Semakin semangat menyusui walaupun masih sakit. Tapi hari itu gue sudah mandi
sendiri donk dan sudah berani masukin pain killer sendiri dari anus.
Yang bikin gue sedih hari itu
adalah... my mom gak datang sama sekali ke rumah sakit.
Senin, 2 Maret 2015
I’m getting better and better.
Gue sudah bisa berjalan lebih cepat, miring kiri kanan lebih leluasa. Hari itu
yang datang ke rumah sakit hanya Kak Ade dan Riffat. Dan pasien sebelah gue
sudah melahirkan. Baby nya cowok dengan berat 3,1 kg. Jika dibandingkan dengan
Adek Raisya, Adek Raisya jadi terlihat mungil sekali.
Hari itu Adek Raisya room in lagi
dari jam 9 pagi sampai dengan 9 malam. Tadinya ditawarin Adek Raisya untuk
tidur sampai pagi lagi di kamar gue. Tetapi setelah menimbang bahwa gue juga
masih butuh banyak istirahat, akhirnya Adek Raisya dibawa ke perina jam 9
malam. Tetapi seharian itu kalau Adek Raisya pup or pipis, gue sudah harus
ganti sendiri. Sekalian belajar. Cuma masih kaku banget. Huhu buat buka bedong,
lepas popok kain, bersihin pup, pakai bedong lagi makan waktu lamaaa bener.
Terus bedongnya juga berantakan pula. Pas suster yang handle, weleh2 mantab
banget tangannya dan bedongnya rapi serapi2nya.
Hari itu gue juga ngeliatin cara
suster mandiin Adek Raisya. Gue memang berniat untuk mandiin Adek Raisya
sendiri sejak awal, seperti saat Davina dulu. Dan guepun hari itu sudah mulai
merasakan lelah juga ya mengurus baby. Baru mau bbm an, Adek nangis minta
nenen. Baru mau rebahan, Adek nangis karena pup. Kalau nangis trus dinenenin
tetep nangis, panik lah gue. Mana anak pasien sebelah kerjanya tidur mulu. Buat
nenen aja sampai dibangunin terus sama ibunya. Beda banget sama Adek Raisya
yang nenennya kuat sekali dan risih bener kalau popoknya basah. Tapi gak apa
deh. Baby yang sering nangis itu kan paru2nya sehat dan jantungnya kuat. Adek
Raisya juga kuat nenennya karena mau kejar berat badannya ya Dek?
Selasa, 3 Maret 2015
Yeay, hari ini kita boleh
pulang!!! Sudah bosen banget di rumah sakit. Tetapi sempat sedih, saat Adek
Raisya dicek bilirubin, ternyata bilirubinnya tinggi yaitu 12,4. Adek Raisya
disuruh nginep semalam untuk mendapatkan double blue light. Tetapi dulu saat
Davina juga disuruh nginep semalam karena bilirubinnya hampir 11, gue meminta
Davina tetap ikut pulang bersama gue. Setelah gue susui dan jemur setiap hari,
seminggu kemudian bilirubin Davina menjadi 4. Maka saat itupun gue bertekad
tetap membawa Adek Raisya pulang bersama gue. Tetapi pe er gue adalah menyusui
dia sesering mungkin. Kalau ditakar adalah 20 ml setiap 2 jam. Terlihat sedikit
ya, tetapi saat gue pumping untuk dapatin 20 ml itu susah bener lho. Tetapi gue
tetap semangat dan yakin ASI gue pasti cukup untuk Adek Raisya. Dan syukurlah
Adek Raisya tidak usah capek2 dibangunin untuk nenen. Setiap 1,5 jam Adek
Raisya pasti nangis minta nenen. Dan gue merasa makin sering dinenenin, ASI gue
semakin banyak. Adek Raisya juga tidak tipe ngempeng. Dia beneran nenen.
Lamanya nenen 5 sd 10 menit tetapi dia nampak kenyang sekali.
Hari itu rencana Fhini, Dieka,
Mbak Evi, Mas Yudha, Ullie, Ryin, Dema, Deki dan Tia mau datang ke rumah.
Tetapi kepulangan gue masih tentatif jam berapa. Dan sampai rumah gue rencana
mau massage payudara supaya ASI gue tidak mampet karena gue punya PR untuk
nurunin bilirubin Adek Raisya secepatnya. Dan pasti yang namanya baru pulang
habis proses melahirkan gue masih jetlag. Jadi gue sempet ragu apakah bisa
nerima kedatangan mereka atau gak. Akhirnya cancel sih. Karena gue juga baru
keluar dari rumah sakit jam setengah 4 sore. Ngurus semua Cuma berdua aja sama
my hubby. Again, there was no my mom. L
Pasien sebelah sampai bilang, “Hebat ya urus semua berduaan aja.” Hiks hiks.
7 HARI AWAL KELAHIRAN ADEK RAISYA
(01 – 07 MARET 2015)
Hari pertama dan kedua kepulangan
Adek Raisya ke rumah, gue lebih banyak merasa takut “kehilangan” Davina. Gue
takut dia merasa cemburu. Gue takut tidak bisa mengurus dia lagi dengan
maksimal, secara sebelumnya selama hampir 7 tahun seluruh perhatian dan waktu
gue hanya untuk dia. Oleh karena itu setiap gue nenenin Adek Raisya, gue pasti
panggil Davina dan minta dicium bibirnya sama Davina. Bahagianya gue saat
Davina langsung mencium gue dengan semangat dan senyum yang lebar. Lalu setiap
gue gendong Adek Raisya sambil bilang “cantik” dan “lucu” pasti tidak lupa gue
juga puji Davina dengan kata2 yang sama. Davina suka balas sambil becanda, “Aku
sama Adek cantikan mana ma?” Gue jawab, “Cantikan dua2nya donk.” Davina jawab,
“Pilih yang paling ma, aku apa adek?” Dia baru bisa diam kalau gue jawab, “Ga
ada yang paling, dua2nya sama2 cantik karena dua2nya anak mama. Masa beda?”
Yang pasti Davina sayang banget
sama adeknya. Setiap pulang sekolah dia buru2 cuci tangan dan mulut, ganti
baju, lalu cium2 adeknya. Padahal sebelumnya ampon deh susah bener dia bersih2 ke
kamar mandi sepulang sekolah. Trus kalau adeknya gumoh, langsung dilap sama
dia. Kalau adeknya nangis dia langsung teriak, “Maaa, adek nangis nih ma.”
Kadang dia sendiri yang menghibur si adek, “Kenapa sih adek? Jangan nangis
sayang.” Seneng dengernya.
Cuma kadang ngeri juga kalau dia
lagi terlalu semangat deketin adeknya. Takut ketiban. Takut gak steril karena
dicium2 mulu bibirnya si adek. Mungkin Davina sudah gak sabar ya pengen ajak
adeknya main kayak orang gede. Sampai akhirnya pas adek nangis2 mulu sambil
mata tetep terpejam, Davina ngomong, “Aku bosan sama adek. Adek nangis dan
tidur terus.” Hiks hiks, sedih dengernya. Gue bilang, “Sabar donk sayang, adek
kan baru kenalan sama dunia. Sabar aja, bentar lagi juga adek sudah bisa diajak
ketawa, ngobrol dan main.”
Yang pasti minggu pertama
kelahiran adek, gue lagi baby blues banget. Suka berurai air mata tanpa sebab.
Apalagi kalau merasa capek dan kurang tidur banget. Dielus sama my hubby malah
makin deras air matanya. My hubby suka malam2 ikut bangun, gantiin diapers adek
yang basah atau nemenin gue nenenin Adek. My hubby juga belum aktif melakukan
pekerjaannya lagi. Dia lebih banyak di rumah, kalaupun keluar palingan ke pasar
atau yang deket2 rumah saja.
Minggu pertama itu yang datang ke
rumah adalah Ibu Ami pada hari Rabu tanggal 4 Maret. Itu dadakan banget, gak
siapin kue apapun untuk menjamu. Lalu ibu2 kompleks pada hari Jumat tanggal 6
Maret juga datang rombongan. Belum nyiapin kue juga untuk menjamu,masih sibuk
sama baby newborn. Lalu hari Sabtu tanggal 7 Maret banyak banget yang datang.
Siang jam 1 yang datang adalah pasukan Shelly, Pipit, Erline dan Maul beserta
anaknya Shelly dan Erline. Sore sampai malam yang datang adalah Fhini, Dieka,
Ullie, Mbak Evie, Mas Yudha, Ryin, dan Dema. Kita ngobrol2, gosip2, dan ketawa2
bareng. Ya Allah, kangen banget sama mereka! Kangen juga ketawa2 gitu.
Berhubung adek Raisya masih baby banget, maka denger ketawa2 heboh kita dia
malah makin nyenyak tidurnya. Dan malam itu, asi gue rasanya semakin banyak.
Mungkin karena kedatangan mereka membuat stress gue cukup berkurang. Gak sabar
bisa ketemu mereka lagi.
Oiya, alhamdulillah 2 hari
setelah kepulangan Raisya ke rumah, Raisya check up lagi ke dokter pada hari
Kamis tanggal 5 April. Dan bilirubin Raisya sdh turun jadi 10,8. Gak sia2 rajin
menjemur dan menyusui dia walaupun dengan terkantuk2. Berat badan Raisya saat
itu 2,39 kg. Waktu pulang dari rumah sakit tanggal 3 April kan berat badan
Raisya turun dari 2,44 kg menjadi 2,3 kg. Berarti dalam 2 hari berat badan
Raisya naik 90 gram . Dan panjangnya dari semula 45 cm menjadi 46,5 cm.
Alhamdulillah. Kita kejar terus ya sayang berat badan kamu...
1 MINGGU KELAHIRAN ADEK RAISYA
(08 – 14 MARET 2015)
Hari Minggunya tanggal 8 Maret,
Kiki dan Amenk mendadak datang ke rumah sore2, pas Raisya lagi rewel2nya karena
pup dan minta nenen terus. Sampai2 Kiki nemuin gue dan Raisya di kamar gue, dan
gue tidak sempat turun untuk nemuin Amenk. Rambut masih awut2an, baju belum
ganti. Aaah, makasih ya Kiki dan Amenk sudah sempetin datang.
Selasa tanggal 10 Maret, Mom
Pasha dan Mom Khairan (orangtua teman sekolahnya Davina) datang ke rumah untuk
nengokin Adek Raisya. Mom Pasha sempat cerita tentang perseteruannya dengan Mom
Irma dan yang lain. Aduh, gue dengernya sih netral saja ya, karena gue gak tau
mana yang benar mana yang gak. Gue ikut arisan sama mereka buat nambah teman
bukan malah nambah musuh. Jadi selama mereka semua fine aja sama gue, maka
tidak ada masalah buat gue. Lagipula kalau main gank2 an gitu kayak anak SMA aja
ya.
Pada hari Rabu tanggal 11 Maret,
Mom Irma, Mom Salma, Umi, Mom Diva, dan Mom Rania datang juga ke rumah untuk
nengokin Adek Raisya. Ngobrolin ini itu. Mereka gak nyeritain sih bahwa ada
konflik sama Mom Pasha, tapi dari cara mereka membicarakan Mom Pasha memang
terlihat agak2 sinis gitu. Tapi gue pura2 bego aja.
Minggu kedua ini gue masih baby
blues. Bawaannya cemas dan deg2an setiap hari. Nanti Raisya nangis kenapa lagi
ya? Nanti kalau gue sendirian trus Raisya kenapa2 gimana ya? Air mata masih berurai
terus. Makanya kalau rencana ada tamu mau datang, gue mengharuskan my hubby
untuk ada di rumah, membantu mengurus Raisya dan Davina. Karena gue bener2
masih keteteran mengurus semuanya sendirian. Mbak di rumah ada... tapi dia
sudah sibuk ngurus papa dan rumah tangga. Palingan bantu buatin air panas untuk
mandi dan ambilin makanan untuk gue dan Davina. Mama di rumah ada... tapi
konflik di antara kita saat itu membuat mama sama sekali gak pernah bantu gue
bahkan sekedar lihat Raisya saja. Jadi gue merasa sangat2 sendirian dan
kesepian. Mandiin Raisya sendirian, ngurus dari pagi sampai malam sendirian
(kecuali ada my hubby di rumah).
Mana Raisya lagi doyan2nya pup.
Bayi ASI tiap habis nyusu pasti deh pup. Dan saat digantiin, bisa tiba2 pup
lagi, baik pup cepirit dibarengin kentut atau pup yang banyak. Pipisnya juga
deh berkali2. Pernah pup dan pipisnya muncrat ke mana2 kayak bayi cowok. Mana
Raisya saat itu lagi nangis2 karena juga lapar. Buat gue pusing tapi gak bisa
minta bantuan apa2. Akhirnya nangis lagi.
Tadinya gue sok idealis pakai
popok kain dari sehabis mandi pagi sampai waktunya mandi sore. Setelah itu baru
pakai diaper. Tetapi gilaaa... capek banget bentar2 Raisya nangis krn popoknya
basah akibat pipis dan pup. Akhirnya gue gak istirahat2 karena bolak balik
harus gantiin popok. Dan tiap malam harus ngucek dan rendam pakaian bekas kena
pup nya yang seabrek2. Itupun sambil serba buru2, takut Raisya keburu nangis.
Dan gue kan juga ngurus Davina.
Mandiin, pakein baju sekolah dan les, nemenin makan dll. Gue bahkan tiap hari
mandi jam setengah 5 subuh supaya masih ada my hubby yang bisa jagain Raisya
pas gue mandi. Dan setelah my hubby
pergi ke kantor, gue buru2 urus Davina dan Raisya, dah gak ngurusin gue lagi.
Makan aja kadang masih suka numpuk. Makan pagi belum habis, sudah waktunya
makan siang. Makan siang belum habis, sudah waktunya makan malam. Aaahhh,
stress!
Yang bikin senang, hari Sabtu ada
kunjungan dari Rs. Permata. Dan baby Raisya ditimbang. Beratnya sudah 2,7 kg
dan panjangnya 47,5 cm. Beratnya berarti naik 300 gram selama 9 hari. Gak sia2
rasanya nyusuin hampir sejam sekali setiap hari. Apalagi kalau lihat muka
cantik dan polosnya Raisya saat tidur, hilang semua capek dan stress.
2 MINGGU KELAHIRAN ADEK RAISYA
(15 – 21 MARET 2015)
Senin, tanggal 16 Maret, gue
kontrol terakhir ke dr. Asdinery untuk lepas perban terakhir. Alhamdulillah
bekas operasinya sudah benar2 kering. Dan hari itu gue sekalian antar Mbak
Timah (mbak yang kerja di rumah) kontrol ke dokter.
Jadi Mbak Timah ini mengalami bleeding
seperti mens selama 4 bulan. Lama banget kan? Tapi Mbak Timah tidak merasa
sakit atau pusing. Ternyata setelah di USG sama dr Asdinery, ditemukan myom di
mulut rahimnya. Satu2nya cara mengobatinya adalah dengan operasi. Berhubung dr.
Asdinery adalah pemilik Rs. Permata Cibubur, maka dr. Asdinery memberikan
keringanan biaya. Dari yang semula Rp 15 juta, jadi Cuma Rp 4 juta saja. Tetapi
HB nya Mbak Timah rendah yaitu 6,4. Sedangkan untuk melakukan operasi, minimal
harus 12. Jadi Mbak Timah mesti menjalani transfusi darah. Satu kantong darah
harganya Rp 650 ribu. Diperkirakan membutuhkan 5 kantong. Jadi mahal di
transfusi darahnya ya.
Akhirnya hari Rabu, tanggal 18
Maret, Mbak Timah menjalani operasi. Berhubung harus transfusi darah dulu, maka
sejak Selasa malam tanggal 17 Maret, Mbak Timah sudah masuk rumah sakit. Mama,
my hubby, Leni (anaknya Mbak Timah) dan kakaknya Mbak Timah ikut nganterin Mbak
Timah ke rumah sakit. Deg2an juga gue Cuma berempatan di rumah (gue, Davina,
Raisya, dan Papa). Takutnya pas Raisya lagi nangis pas Papa lagi butuh bantuan
misalkan ke kamar mandi. Apalagi di minggu2 itu gue masih sangat sensitif jika
ditinggal di rumah. Masih suka merasa kesepian.
Untunglah sampai dengan mereka
pulang, Papa fine2 aja. Mbak Leni stay di rumah Kota Wisata sampai dengan hari
Sabtu, untuk menggantikan pekerjaan Mbak Timah. Meskipun Rabu malam Mbak Timah
sudah boleh pulang dari rumah sakit, tetapi pasti perlu recovery kan.
Hari Sabtu tanggal 21 Maret,
adek2nya Mama pada datang ke rumah. Ada Tante Tati dan Oom Iwan, ada Tante Tuti
sekeluarga lengkap dengan Rhea sekeluarga dan Mbak Erni sekeluarga. Tante Ayie
gak bisa datang karena ada bazar Flamcake di 3 tempat. Mas Roy sekeluarga juga
pada datang. Senaaang banget rumah jadi ramai. Gue tidak merasa kesepian.
Meskipun baru pada pulang malam hari dan gue tidak bisa tidur siang tapi
seneeeng banget bisa ngobrol dan ketawa2 sama sepupu2 gue itu. Kangen nginep
bareng lagi di hotel atau menggila di karaoke. Hehe.
3 MINGGU KELAHIRAN RAISYA (22
MARET - 28 MARET 2015)
Ada apa ya di minggu ini? Yang
pasti antar Mbak Timah kontrol ke dr. Asdinery hari Rabu tanggal 25 Maret.
Hasilnya alhamdulillah baik. Sekalian juga ukur tb/bb Raisya. Ternyata sudah
3.23 kilogram. Alhamdulillah dalam waktu 11 hari Adek Raisya naik beratnya
sebanyak 500 gram. Tingginya naik 1,5 cm menjadi 50 cm. Terus sehat dan cepat
besar ya nak...
Di minggu ini Davina juga
menghadapi final test quarter 3 dari hari Senin sampai dengan Rabu. 1 hari ada
2 mata pelajaran yang diujikan. Biasanya gue bisa full setiap malam ajarin
Davina, kali itu gue ngajarin Davina sambil gendong Raisya, nenenin Raisya dan
nyuap makan malam. Badan sampai rasanya gempor banget! Pernah suatu malam sendi
gue sakit sekali dari pantat sampai telapak kaki kiri. Malam2 gue terbangun
nangis2 saking sakitnya dan minta tolong my hubby untuk balurin pake Hot Cream
dan pijetin sampai sakitnya hilang. Gue juga minta time out barang 2 jam dari
urus Raisya kala malam karena 2x gue kontrol ke dr. Asdinery, tekanan darah gue
naik jadi 140/90 karena kurang tidur. Kepala gue sampai nyut2an saking
pusingnya. Sometimes gue merasa kayak gempa bumi. Gue ngeri efeknya makin
buruk, makanya gue minta time out. Akhirnya gue siapkan sebotol ASIP untuk
diminumkan my hubby ke Raisya saat malam dia minta susu.
Btw, hari Senin sd Jumat Davina
libur sekolah. Seneng banget deh ada yang nemenin di rumah pagi2. Walaupun
deg2an juga sih tiap Davina semangat banget ciumin Raisya sedangkan dia lagi
batuk dan pilek berat. Sudah beliin masker buat dipakai Cuma karena maskernya
kegedean Davina jadi males pakainya.
Berhubung Davina sudah nagih dari
lama pengen ke Kidzania, akhirnya hari Kamis tanggal 26 Maret Davina janjian
sama Shawa, Irbi, Chessa dan Iftin (sepupu2nya) ke Kidzania. Siapa yang anterin
Davina? Papanyaaa!!! Gue di rumah aja sama Raisya. Huhu, sedih tak terkira
lagi2 ditinggal di rumah. Tapi mau ajakin
Raisya juga takut karena Raisya belum 40 hari. Pengorbanan seorang Mama
deh jadinya, yang penting Davina happy.
Ternyata tiket Kidzania sold out.
Padahal hari itu hari Kamis. Akhirnya mereka pada main ke Pinisi di Pasaraya.
Baru sampai rumah dah malem banget jam 9an kalau gak salah.
Hari Jumat tanggal 27 Maret my
hubby jemput Mbak baru untuk bantu2 urus Raisya dan Davina. Namanya Mbak Esih,
orang Cirebon. Dapat dari temannya Kak Lis (saudaranya my hubby). Usianya 32
tahun. Dia kerja untuk cari uang utk ngurus cerai dengan suaminya.
Seneng sih dapat mbak,
memperingan pekerjaan terutama dalam urus mandinya Davina, makannya Davina,
cuci baju bekas pup dan pipisnya Raisya, beresin kamar, cuciin bekas pumping.
Tetapi sebenarnya gue kurang sreq sama orangnya karena kurang inisiatif. Memang
sih urusan Raisya seperti mandiin, bersihin popok, gantiin baju sampai nidurin
masih gue handle sendiri. Karena gue juga masih observasi dulu Mbak Esih
seperti apa. Pernah gue minta tolong Mbak Esih untuk mandiin Raisya sambil gue
liatin. Luwes kok walaupun nyabuninnya kurang maksimum aja... gak berbusa
seperti kalau gue yang mandiin. Tapi tetep gue mau liat dulu Mbak Esih orangnya
seperti apa.
Yang pasti sejak kedatangannya
pertama kali, Mama sudah gak suka sama Mbak Esih. Boro2 diajak ngomong sama
Mama. Sekalinya ngomong, Mama langsung bentak. Gue mau bilangin Mama saat itu
masih sungkan karena antara gue dan Mama masih ada masalah. Kita belum saling
bicara setelah 3 bulan diam2an. Jadi gue paling bisa curhat sama my hubby.
Bener kan, Mbak Esih sampai ketakutan kalau ada Mama. Jadi kalau Mama pas lagi
ada di lantai bawah, Mbak Esih langsung pelan2 kabur ke kamarnya. Kayak
kucing2an. Gue dapat mbak bukannya happy malah jadi stress.
4 MINGGU KELAHIRAN RAISYA (29
MARET - 4 APRIL 2015)
Pada hari Minggu tanggal 29
Maret, gue, hubby, Davina dan Raisya main ke rumah Mami (mertua). Bawa Mbak
Esih juga. Rencana mau nitipin Raisya di Mami. Gue mau ngemall!!! Mau nyobain
makanan di resto, mau nonton FF7, gue sudah bener2 suntuk di rumah! Pagi2 gue
mandiin Raisya dan siap2 dengan penuh semangat. Gue juga bawa 5 botol ASIP
untuk diminumkan ke Raisya saat dititipin di rumah Mami.
Tiba2 my hubby bilang kalau mau
pasang cincin batu akik nya dulu. Gue langsung bilang gak boleh! Gue sudah tahu
bahwa itu akan makan waktu lama. Dan itu rencana dadakan banget. Tapi my hubby
bilang, "Janji deh, gak bakal lama. Paling Cuma setengah jam."
Tiba2 my hubby sudah pergi aja
sama mertua cowok gue ke tempat batu akik, meninggalkan gue, Davina dan Raisya
di rumah Mami. Untung di rumah Mami juga ada Dek Fidy, Varo, Dek Iya, Vier, dan
Parsha. Jadi gak sepi2 amat. Cuma ditunggu2... my hubby gak pulang2 juga. Gue
sudah keseeel banget! Tapi gak mungkin gak menunjukkan rasa kesel itu ke depan
mertua dan ipar. Jadi gue diam saja. Tapi mertua dan ipar malah yang sebel sama
my hubby. Dek Fidy ngomong, "Udah kak, nanti kalau Bang Ai sampai,
diomelin ajaaa." Mertua cewek gue juga ngomong, "Ini Harry sampai
rumah pasti dimarahin sama Sasha. Jam segini belum pulang."
Dan my hubby akhirnya sampai
rumah jam 5.30 sore, dah mau maghrib. Dengan muka tanpa rasa bersalah langsung
ngajakin gue pergi ke Kokas. Padahal hari itu gue maunya ke PIM atau Gancit.
Lagian berangkat jam sgitu, mau nonton yang jam berapa? Makan makan apa? Boro2
deh mau pergi, gue dah malesss banget! Badan juga dah peliket banget. Hati dah
terlanjur bete. Gue diem saja. Kalau ngomong gue malah pengen nangis.
Hari itu juga gue mogok makan.
Ditawarin lunch pake rendang bikinan mertua gue gak mau. Bukannya gak enak,
malah enak banget lho rendang Mami. Tapi gue kan dari rumah niatnya mau makan
di resto. Kalau siang itu sambil nungguin my hubby gue makan rendang, tauk2 my
hubby dateng *ngarep*... gue dah keburu kekenyangan buat makan di resto. Taunya
my hubby datengnya dah mau maghrib. Kalopun siangnya gue makan rendang, dah
keburu laper lagi keleus.
Sepanjang perjalanan pulang, gue
diam saja di mobil. My hubby sibuk nanyain apakah gue mau pizza, mau nasgor,
mau sate, mau abuba, dll. Ahhh, gak ada yang menarik! Semua makanan itu juga
tiap hari bisa gue makan karena ada di Cibubur. Lagipula kalau gue makan abuba
dulu, gimana Raisya dah kemaleman gitu? Davina juga sudah tepar di jok mobil
belakang. Gue semakin diem dan semakin berusaha kuat nahan tangis. Sebenarnya
pengennya keluarin aja itu air mata tapi malu ada Mbak Esih di dalam mobil itu
juga.
Akhirnya di rumah gue gak kuasa
untuk gak keluarin unek2 gue. Nangis bombay lah gue. Gue kesel banget BloGgY!
Ngurusin batu akik kan bisa my hubby lakukan kapan saja. Kapanpun dia mau
keluar rumah, kemanapun dia mau pergi, bisa dia lakukan sesukanya. Sedangkan
gue untuk keluar dll harus mikirin Raisya. Moment pergi gue hari itu berharga banget
buat gue, kok bisa2nya my hubby dengan egois memakainya untuk kepentingannya
sendiri? Kalau tahu Cuma ngendon aja di rumah mertua, ngapain juga gue sampai
bawa 5 botol ASIP dan perlengkapannya? Uh!!! Kesel pokoknya!!!
Oiya, pulang dari Pinisi, Davina
badannya panas tinggi, sampai almost 39 derajad. Gue minumin tempra turun, tapi
tiap sore panas lagi. Gue pikir dari batuk pileknya. Cuma kok sudah lewat dari
3 hari gak turun2 juga yah panasnya. Padahal juga sudah gue minumin obat batuk,
obat pilek dan sari kurma. Biasanya dihantam sari kurma, dalam 3 hari sakitnya
sembuh.
Akhirnya pada hari Selasa tanggal
31 Maret, saat Davina lagi buang ingus, keluar darah dari hidungnya. Panik donk
gue. Davina mimisan, dan itu baru pertama kalinya. Langsung gue ambil es batu
diusapkan di batang hidungnya dan daun
sirih dimasukkan ke lubang hidungnya. Davina melihat darah dari dalam hidungnya
langsung trauma gak mau buang ingus lagi.
Dan hari itu juga kita langsung
bergegas ke dr. Syarif di Rs. Permata. Di perjalanan menuju Rs. Permata,
alhamdulillah darah dari hidung Davina sudah mengering. Untung saja dapat
antrian gak terlalu besar. Tetapi setelah dari dr. Syarif, Davina harus test
lab dulu. Ditunggu hasilnya 1 jam, baru masuk ke ruangan dr. Syarif lagi.
Uh, deg2an juga ajak Davina test
lab secara dia takut banget sama jarum suntik. Dan bener juga kan, gue sampai
harus gulat meluk dan megangin Davina dari belakang saat suster mengambil darah
Davina. Dari posisi duduk sampai posisi tiduran. My hubby megangin Davina dari
arah depan. Teriakan dan tangisan Davina sudah sampai ke mana2. Tapi saat jarum
ambil darahnya masuk, sepertinya dia kaget, kok Cuma segitu ya sakitnya? Dia
ngebayangin sakitnya banget2. Hihi.
Sejam kemudian hasil test Davina
keluar. Ternyata panasnya disebabkan oleh bakteri dan Davina kena gejala
typhus. Ya ampun, kasian banget anakku itu. Alhamdulillah bukan karena DBD.
Akhirnya sama dr. Syarif dikasih antibiotik, obat batuk dan obat pilek. Davina
juga harus bedrest 2 hari di rumah. Wah long weekend lagi donk dia secara hari
Jumatnya kan libur nasional (paskah).
Besoknya, setelah minum obat itu,
alhamdulillah Davina getting better. Sudah gak lemas lagi, panasnya juga turun
beneran. Hebat deh emang racikan dr. Syarif. Sebelum minum obat tersebut,
Davina kalau lagi panas sampai lemes banget. Matanya kuyu sekali. Kasian
liatnya. Gue wanti2 sama Davina, selama di rumah dipakai untuk istirahat,
jangan dipakai buat main2. Jadilah hari Rabu dan Kamis itu gue untel2an bertiga
sama Davina dan Raisya di kasur saat siang.
Oiya, tadinya ke Rs. Permata mau sekalian imunisasi
Hepatitis B ke 2 untuk Raisya. Tapi kata dr. Syarif ternyata kecepatan. Minimal
jaraknya 4 minggu dari imunisasi Hep B pertama. Sempat timbang bb Raisya.
Alhamdulillah sudah naik lagi jadi 3,4 kilogram. Dalam waktu 6 hari naik 200
gram. Tapi tingginya tetap sama 50 cm.
Ada good news di minggu itu. Gue
sudah baikan sama nyokap! Gak disengaja sebenernya moment kita untuk saling
bicara dan pelukan. Awalnya my hubby mau nanyain pendapat nyokap tentang Mbak
Esih, eh malah berlanjut sampai malam kita bahas tentang diam2an kita selama 3
bulan. Senang banget bisa ngobrol lagi sama nyokap.
Yang mengagetkan, pada hari Rabu,
tanggal 01 April 2015 maghrib, tiba2 Mbak Esih bilang kalau harus pulang
kampung. Tiba2 ibunya telfon mengabarkan kalau mantan suaminya mengajukan surat
cerai duluan dan mengharuskan dia hari Kamis tanggal 2 April pagi untuk datang
ke sidang. Gila, mendadak banget gak sih?! Baru juga 5 hari kerja dah pulang.
Mana waktu itu my hubby belum pulang kantor.
Akhirnya gue suruh my hubby
cepetan pulang. Sampai rumah jam 8 malem. Mbak Esih sudah siap2 tinggal
dijemput sama sponsornya. Gue sama my hubby akhirnya memperbolehkan dia pulang.
Habis mau gimana lagi? Males juga nahan2. Gue juga gak terlalu cocok2 amat sama
orangnya. Mudah2an pertanda lah dari Allah. Cuma malam itu si sponsor baru
jemput dia jam 11 malem. Alhasil gue dan my hubby nungguin sampai semalem itu
padahal sudah ngantuk banget!
Alhasil besok2nya gue
"perang" sendirian saban pagi. Nenenin Raisya, mandiin Davina,
nyiapin sekolah Davina, mandiin Raisya, dll dst dsb. Kalau my hubby lagi
berangkat agak siang, lumayanlah ada yang nyiapin dan angkat2 bak mandinya
Raisya. Pulang Davina les dan sekolah, gue juga harus "perang" lagi.
Mandiin sore Raisya, mandiin Davina, nyuapin Davina, dll dst dsb. Gituuu aja tiap
hari. Untung 2 hari di awal, Davina gak sekolah karena harus bedrest, jadi gue
gak harus pagi2 banget bangun. Tapi kesibukan mengurus 2 anak dan memberikan
ASI membuat berat badan gue turun menjadi 48 kg, tanpa diet! Sebelum hamil
berat gue 52 kg, mau nurunin di bawah 50 kg susah banget. Ini gue makan dengan
porsi lebih banyak dan ngemil gak berhenti2, malah lebih ringan. Hehe, emang
deh ASI dan urus anak lebih powerful dibandingkan RPM di tempat fitnes. Dulu
waktu habis melahirkan Davina, malah berat gue turun jadi 42 kg, berat terendah
gue sejak dewasa. Hihi.
Oiya, hari Sabtu tanggal 4 April
akhirnya Raisya diimunisasi Hepatitis B yang kedua. Beratnya saat itu 3,59 kg.
Hore, sudah naik 200 gram selama 4 hari. Cuma panjang badannya tetap 50 cm.
Huhu gak tega lihat paha Raisya dimasukin jarum suntik. Raisya nangis pas
jarumnya masuk, tapi nangisnya gak lama. Davina lihatnya malah ketawa, katanya lucu muka Raisya.
Alhamdulillah, Raisya juga tidak pilek dan batuk. Gue sebelumnya sempat takut
sekali Raisya ketularan pilek dan batuk dari kakaknya.
5 MINGGU KELAHIRAN RAISYA (5 – 11
APRIL 2015)
Akhirnya hari itu dipilihlah Mall
Bintaro Exchange, supaya tinggal tol ke tol saja. Di sana kita Cuma makan Duck
King aja. Walaupun begitu perasaan gue sudah happy banget bisa lihat banyak
orang dan lampu2 mall, haha. Davina makan si duck cukup banyak. Ternyata dia
suka bgt bebek peking.
Dari Bintaro Exchange kita ke Mae
Bebe, babyshop di Bintaro. Untuk ngilangin bete paling enak belanja. Berhubung
baru punya baby maka belanjanya adalah belanja baju bayi. Ternyata toko Mae
Bebe deket HolyCow! Tokonya termasuk kecil, sistem swalayan, penataannya agak
berantakan, tapi barangnya lengkap, lucu2 dan murah. Gue beli dress2 untuk
Raisya, termos untuk menghangatkan ASIP saat tdk di rumah ataupun mobil, dan
piyama Davina. Rasanya masih ingin belanja lebih banyak lagi. Davina aja masih
gatal pengen pilih2 baju. Tapi ternyata saat kita datang, gak lama Mae Bebe nya
sudah mau tutup. Lampu dimatiin. Milih dress dan piyama aja sambil panik dan
buru2. Tau gitu barusan ke Mae Bebe dulu baru ke Bintaro Exchange. Lain kali
deh pengen ke sana lagi, ketagihan belanja di sana.
Oiya sudah 1,5 minggu ini gue
memberikan ASI kepada Raisya dengan memakai botol. Mengapa? Karena kalau nenen
langsung, Raisya hanya nenen 5 menit bahkan kurang. Dia suka sekali ketiduran
dan sulit dibangunin. Mungkin karena posisinya sambil dipangku/digendong. Akhirnya
gue taruh lagi di kasurnya, tetapi belum lama dia sudah nangis lagi minta nenen
karena masih lapar. Gak lama nenen, tidur lagi. Begitu terus. Akhirnya gue
capek banget karena harus bolak balik gendong utk nenenin, trus taruh lagi di
kasur, begitu terus dalam durasi kurang dari 30 menit. Raisya juga jadi lebih
rewel. Tidurnya tidak nyenyak. Gue juga keteteran gak bisa ngerjain apa2 selain
nenenin. Sedangkan gue harus ngurus Davina juga dan tdk ada mbak khusus yang
bantu gue handle anak2.
Setelah diberikan ASI dengan
botol, Raisya menjadi lebih tenang tidurnya karena perutnya kenyang. Durasi
minta ASI lagi sekitar 1,5 jam sd 2 jam sekali. Gue jadi bisa ngerjain hal2
lain karena dapat memprediksi kapan Raisya bangun dan menangis.
Dulu gue pun memberikan Davina
ASI Exclusive dengan cara memakai botol karena Davina bingung puting. Mengapa
bingung puting? Pertama, Davina lahir dengan berat 2 kg, sehingga gue harus
memastikan Davina minum cukup ASI untuk mengejar berat badannya. Dengan
memberikan ASI memakai botol, gue bisa mengetahui berapa ml yang diminum Davina
sehari, apakah benar2 cukup atau tidak. Kedua, Davina itu suka banget ngempeng
nenen. Sekali minum susu dari PD, lamaaa banget, bisa sampai 4 jam! Gue waktu
itu belum paham, apakah Davina beneran minum ASI atau ngempeng. Akhirnya dengan
memberikan ASI memakai botol, gue bisa tahu Davina benar2 minum ASI. Dan
akhirnya Davina pun lebih suka minum ASI dari botol daripada dari pabriknya
langsung.
Gue pikir gue sendirian di dunia
ini, memberikan ASI lewat botol, walaupun ada gue dekat sang baby. Ternyata gue
punya banyak teman! Dan gue baru tahu kami itu dikenal dengan sebutan E Ping
Mom (Exclusive Pumping Mom). Rata2 alasannya karena flat nipple atau tdk bisa
melekat baik dengan si baby saat menyusui langsung. Tetapi apapun alasannya,
gue berpikir E Ping Mom tetap adalah mama yang hebat! Gimana gak? Mereka... eh
kami... harus rajin pumping 2 sd 3 jam sekali. Bahkan tengah malam sambil
ngantuk2 tetap harus pumping, supaya supply ASI tetap terjaga. Setelah atau
sebelumGimana gak? Mereka... eh kami... harus rajin pumping 2 sd 3 jam sekali.
Bahkan tengah malam sambil ngantuk2 tetap harus pumping, supaya supply ASI
tetap terjaga. Setelah atau sebelum pumping, harus kasih ASIP ke baby juga.
Waktu tidur jadi berkurang. Dan peralatan saat bepergian juga lebih ribet.
Mereka... eh kami... lakukan itu karena kami sadar bagaimanapun ASI tetap
adalah makanan terbaik untuk bayi kami dibandingkan susu formula termahal
sekalipun.
Sampai suatu periode Raisya mogok
minum ASI dari botol (padahal milih botol yang tepat untuk Raisya juga bukan
perkara mudah) dan juga marah2 saat nenen langsung ke PD gue. Akhirnya tidur
siang dan tidur malamnya jadi rewel. Hari Selasa tanggal 7 April adalah
puncaknya. Siang itu Raisya sangat2 rewel, nangis mulu. Diminumin ASIP dari
botol marah2, nenen langsung juga marah2. Tapi dia nampak kelaperan. Gue jadi
panik sampai nangis. Kasihan liat Raisya kelaperan tapi gak minum ASI. Sudah
coba gue gendong dulu, ayun2 dulu, berusaha tenang, tapi teteeep aja nangis2.
Gue takutnya Raisya sariawan di lidah atau daerah mulutnya yang membuat dia gak
nyaman minum ASI. Gue juga takut dia pilek dan batuk sehingga gak bisa nafas
leluasa dan bikin gak bisa minum ASI. Gue juga takut dia alergi, karena gue
lihat di pipinya banyak sekali beruntusan. Ah, kalau alergi sih bisa jadi
banget, karena gue juga alergi. Dulu Davina juga alergi sampai gue berobat ke
dokter anak spealis alergi yaitu dr. Widodo di Bunda Menteng. Tapi gue takut
alerginya Raisya bikin dia gak bisa minum ASI juga.
Mana waktu itu my hubby dari pagi ke kantor
dan pulangnya malem bener. Gue sempet telfon dia sambil mewek2 minta dia pulang
cepet. Gue bener2 butuh temen untuk menghadapinya. Alhamdulillah, akhirnya
Raisya bisa ditenangkan dan mau minum ASI langsung dari PD gue. Saat my hubby
pulang, Raisya sudah tidur nyenyak. Huhu, padahal untuk membuat Raisya sampai
nyenyak gitu badan gue sampai gempooor banget.
Hari Rabu dan Kamis gue minta my
hubby gak ngantor dan melakukan aktivitas kerja. Dia harus nemenin gue ngurus
Raisya. Gue takut baby blues lagi. Dan hari Kamis tanggal 9 April my hubby
nemenin gue bawa Raisya massage di Fun Baby Spa di Ruko Citragrand. Itu adalah
milik istrinya dr. Adrizal SPA. Yah siapa tahu Raisya pegel2 banget badannya
hingga malas nyusu. Padahal sih tiap hari sebelum mandi pagi gue rutin massage
Raisya dari hasil lihat2 caranya di you tube.
Pada saat di massage ternyata
Raisya nangis2 karena lapar. Memang sih sebelumnya Raisya belum nyusu karena
tidur terus di mobil. Akhirnya Raisya di massage tangannya sambil nenen hehe.
Pengen ajak Raisya swimming juga tetapi ternyata belum bisa karena berat badan
minimal baby bisa swim di situ adalah 4.5 kg. Oiya, berat badan Raisya saat itu
adalah 3,7 kg. Selama 5 hari beratnya nambah 100 gram, tidak secepat
sebelumnya.
Tadinya gue dan hubby kan ada
rencana mau bawa Raisya ke dr. Widodo lagi untuk melihat apakah ada alergi yang
mempengaruhi selera menyusu Raisya. Tetapi setelah dipikir2, sebenarnya kita
tinggal lihat list pantangan makan busui yang dibuat dr. Widodo agar sang baby
tidak alergi. Dan list tersebut ada di google. So, akhirnya kita putuskan, cek
aja ke dr. Adrizal, untuk melihat apakah ada sariawan atau batuk pilek. Selain
di Rs. Permata, dr Adrizal juga buka praktek di Fun Baby Swimming and Spa
tetapi prakteknya mulai jam 7 malam. Sedangkan saat itu baru jam 5 sore.
Akhirnya pulang ke rumah dulu, jemput Davina dan balik lagi deh malamnya ke
tempat praktek dr. Adrizal.
Alhamdulillah, Raisya tidak
sariawan, pilek ataupun batuk. Mungkin Raisya hanya sedang nursing strike saja.
Akhirnya diskusi ini itu sama dr. Adrizal. Kalau berobat ke dr. Adrizal di Rs
Permata kan gak bisa seleluasa itu karena antrian di luar banyak. Tapi kalau di
klinik pribadinya itu gue bisa tanya sepuasnya. Dan sebenarnya bruntusan di
pipi Raisya tidak usah disembuhin. Tetapi supaya bikin gue tenang, akhirnya
dikasih salep untuk dioleskan tipis2 saja. Dan dr. Adrizal pesan, berikan ASI
dan handle baby gak boleh panik karena baby juga bisa merasakan. Mungkin Raisya
ngamuk2 saat diberikan ASI atau ASIP karena gue memberikannya dengan panik atau
emosi. Hehe.
Sehabis itu gue mulai memberikan
Raisya ASI langsung, tidak pakai botol lagi. Bisa jadi kan bayi awalnya mau
pakai botol, tiba2 gak suka lagi. Dan memang, setiap memulai nenen, Raisya
langsung semangat. Tetapi gak lama dia sudah melepas PD gue. Dia diam sebentar,
sometimes ngamuk. Kadang dia lanjutin lagi habis itu, kadang gak mau. Tapi
kalau gak mau... kurang dari setengah jam sudah minta nenen lagi. Jadi sehari
bisa nenen seriiing banget. Lebih dari 12 kali dengan durasi yang sangat tidak
menentu.
Hari Jumat tanggal 10 April, akhirnya gue dan
my hubby nonton. Titipin Raisya dulu di mertua. Sempet deg2an juga mau nitip di
mertua karena mbak nya Raisya dah gak ada lagi dan mertua sudah dititipin 2
cucu yang lain yaitu Varo dan Vier. Takut mertua kelabakan, apalagi Raisya
minum susu botolnya lagi agak2 mogok dan suka rewel sore menjelang malam. Tapi
kata mertua, “Udah pergi aja... santaaaiii...” Sip deh, Mami, makacih ya Mami
chayank!
Cus lah
kita ke mall terdekat yaitu Kokas. Sampai sana jam 15.30 dapat tiket nonton FF7
jam 16.00 dengan posisi duduk yang nyaman. Enaknya nonton di jam kerja adalah
gak perlu takut kehabisan tiket or dapat posisi duduk gak enak. Dan seperti
yang sudah gue duga, FF7 kereeen banget! Dari awal sampai akhir bikin mata gak
bisa berpaling. Serunya gak selesai2. Gue rasa FF7 adalah film FF terbaik
selama ini. Dan yang bikin terharu saat melihat Paul Warker yang di mana itu
adalah shooting terakhirnya sebelum dia meninggal dunia beneran.
Kelar
nonton sebenarnya gue pengen nyobain makan di resto Jepang di Zenbu Kokas.
Pengen nyobai menu Mozaru nya yang dibalurin cheese sauce. Tapi berhubung Mami
sempet telfon bilang kalau Raisya dari siang gak mau tidur2 dan
rewel...akhirnya kepikiran juga. Saat itu sudah ditengkurepin sih sama Mami dan
tidurnya sudah nyenyak, tetapi tetep saja hati gak tenang ninggalin lama2.
Akhirnya mampir ke Tokyo Store sebentar beli rak untuk simpan ASIP di kulkas
dan tempat gosok gigi yang sudah rusak. Lalu ke Breadtalk dan beli Jeju Ice
Cream yang sedang happening. Rasanya so so lah... kayak momogi rasa jagung yang
dikasih ice cream hehe.
Sampai
rumah mertua, Raisya lagi digendong pakai kain jarik. Dapat laporan minum
susunya gak banyak dan dicicil. Di rumah mertua makan nasi kebuli sebentar
habis itu pulang. Walaupun Cuma nonton aja, tapi hati tetep seneeeng banget
karena bisa ngerasain nonton lagi, one of my hobby.
6
MINGGU KELAHIRAN RAISYA ( 12 – 18 APRIL 2015)
Minggu
ini Raisya kembali minum ASI pakai botol. Awalnya karena gue bingung, kenapa
Raisya suka sekali seperti mules lalu kayak laper tetapi gak mau nenen. Hingga
akhirnya gue menemukan istilah HIPERLAKTASI. Nanti gue akan bahas hiperlaktasi
dalam keadaan terpisah ya.
Hari
Minggu tanggal 12 April, gue, my hubby, my mom, Raisya dan Davina pergi beli
kado untuk Banyu dan belanja bulanan ke Giant. Saat beli kado untuk Banyu,
Raisya di mobil saja sama papanya dan Davina. Dan waktu di Giant, Raisya sama
papanya dan Raisya di resto M&M. Kenapa gak diajak ikut serta keliling beli
kado dan belanja bulanan? Karena virus dan bakteri aneh2 lagi berkeliaran bebas
di udara nowadays. Dr. Syarif juga bilang sebisa mungkin baby dibawa keluar
rumah usia 3 bulanan saja, saat imunisasinya sdh lumayan lengkap, karena lagi
banyak virus aneh2. Anaknya Mbak Alma saja, pas habis dari mall, sakit batpil
dan typhus. Gak lama dari typhus ternyata sakit meningitis *amit2* sampai
diopname sebulan. Davina juga habis main di Pinisi sakit gejala typhus dan
alhamdulillah gak berkembang jadi sakit yang lain.
Hari
Jumat tanggal 17 April gue pergi nemenin my hubby ketemuan sama temen lama
yaitu Eki dan Niken istrinya. Raisya dan Davina diajak juga. Sebenarnya my
hubby nyuruh gue di rumah saja tapi gue sudah bosan banget di rumah. Walaupun Cuma
ketemuan di Giant Extra Bintaro, tetep aja gue happy bisa lihat jalanan dan
orang2.
Ternyata
Niken istrinya Eki lagi hamil sudah 9 bulan. Perkiraan melahirkannya tanggal 28
April sd 5 Mei. Kelar ngobrol2 sama Eki dan Niken, kita belanja beberapa barang
di Giant. Baru balik dari sana jam 09.30 malam. Sampai rumah jam 10.30 malam.
Jam segitu bawa Raisya menurut gue sudah malam banget. Jadi inget dulu pas
masih single, sampai rumah jam 2 pagi tiap hari Jumat, itupun kayaknya belum
ngantuk2 dan puas2 hangout.
Sampai
rumah langsung seka Raisya pakai tissue basah baby, trus gantiin Raisya pakai
piyama, oles perutnya pakai minyak telon dan transpulmin.
Hari
Sabtu tanggal 18 April Raisya ke dr. Syarif untuk imunisasi. Sebenarnya kalau
lihat jadwal imunisasi, harusnya Raisya baru imunisasi lagi di usia 2 bulan.
Tetapi dr Syarif pernah menuliskan di catatannya untuk datang tanggal 18 April
untuk imunisasi BCG, selanjutnya datang lagi tanggal 18 Mei untuk imunisasi
combo polio, DTP, H1B, PCV dan Rotavirus. Utk Rotavirus gue masih bimbang,
apakah perlu dikasih atau tidak. Tetapi mengingat sekarang virus sudah macam2
maka sepertinya akan dikasih deh.
Karena
sudah booking dari hari Jumat via telfon, maka dapat antrian nomor 46 (antrian
nomor segitu gak terlalu besar lho). Davina tidak mau ikut karena katanya
kelamaan nunggunya. Ya ampun, gak kerasa ya dia sudah semakin besar. Dulu
kemana aja dia mau ikut sama mamanya. Bentar lagi dia tidak mau ikut karena
alasan mau main atau hangout sama temen2nya. Kalau kemarin pas gue mau pergi,
dia lagi main masak2an sambil makan nasi pakai sayur lodeh.
Pas
ditimbang, Raisya beratnya 4 kilogram dengan panjang 57 cm dan lingkar kepala
37,5 cm. Beratnya naik 300 gram selama 9 hari, berarti 3 hari sekali beratnya
naik 100 gram. Yang fantastic adalah panjangnya. Sempet stuck di 50 cm dan
sekarang sudah 57 cm! Alhamdulillah. Kalau diingat dulu Raisya lahir mungil
banget dengan berat 2,44 kg dan pulang ke rumah dengan berat 2,3 kg. Dalam
waktu 49 hari dia sudah bertambah beratnya sebanyak 1,7 kilogram. Terus sehat
ya Nak...
Di
usianya yang memasuki minggu ke-7 ini... Raisya sudah bisa menatap lekat2 wajah
mama, papa, dan kakaknya. Kadang kalau moodnya lagi bagus, dia bisa ikutan
tertawa kalau diajak becanda. Kalau sudah tidak mau minum susu, dia sudah bisa
dorong botol atau PD gue pakai tangannya atau geleng2 kepalanya. Hehe lucu banget
ekspresinya! Trus yang juga mencengangkan, saat gak mau ditengkurepin dia sudah
bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada sehingga dia akhirnya tengkurep
dengan bertumpu pada kedua tangannya dan dengan begitu dia dengan mudah
menelentangkan tubuhnya sendiri! OMG, bayi usia 6 minggu sekarang sudah banyak
akal ya.
Phew,
selesai juga cerita rapel tentang Raisya sejak kelahirannya hingga minggu
keenam. Selanjutnya, mudah2an gue bisa update cerita tanpa harus dirapel yah
BloGgY sayang... Yang pasti, mengurus 2
anak tanpa mbak khusus luar biasa sekali. Capek banget pasti... ada emosi iya
gak munafik pasti ada... tapi terbayar saat melihat senyum ceria Raisya dan
Davina, melihat mereka tumbuh sehat dan semakin pintar. I love you my girls...